DIVISI KARDIOLOGI, DEPT ILMU PENYAKIT DALAM FKUI-RSCM
 
Elektrokardiografi (EKG) mempelajari aliran listrik yang terbentuk selama aktivitas jantung. Alat EKG membutuhkan waktu ratusan tahun untuk penyempurnaan dari bentuk mesin dasar hingga mesin yang saat ini kita jumpai.

Berawal dari keberhasilan Dr. Luigi Galvani, seorang dokter dan fisikawan Italia, merekam aliran listrik dari otot skelet pada tahun 1786[1], beberapa fisikawan dan ahli fisiologi pun berusaha menunjukkan adanya aktivitas listrik di jantung.[2,3]
Pada tahun 1887, ahli fisiologi London, Augustus Waller, mempublikasikan elektrokardiogram manusia pertama[4] menggunakan elektrometer kapiler Lippmann terfiksasi pada sebuah proyektor sehingga memungkinkan detak jantung direkam secara real time.[2] Waller lalu mendemonstrasikan teknik perekaman jantung pada the First International Congress of Physiologists tahun 1889 dan disaksikan oleh ahli fisiologi Belanda kelahiran Semarang, Indonesia, Willem Einthoven.[5] Empat tahun kemudian, Einthoven memperkenalkan istilah ‘electrocardiogram’ pada pertemuan Dutch Medical Association.[1]

Einthoven memperbaiki elektrometer kapiler Lippmann pada tahun 1895 dan mempublikasi sebuah ilustrasi untuk menunjukkan EKG yang telah dikoreksi secara matematis terhadap inersia dan friksi pada sistem kapiler (Gambar 1).[1] ABCD digunakan untuk mengindikasikan gelombang yang terbentuk pada elektrometer lama. Kemudian Einthoven menggambar kurva dari elektrometer yang telah diperbarui dan diberi nama PQRST. Pemilihan PQRST diperkirakan terinspirasi oleh Descartes yang menggunakannya huruf-huruf tersebut untuk mengidentifikasi titik-titik berurutan pada kurva.[6]

Selanjutnya pada tahun 1901, Einthoven mempublikasi elektrokardiogram pertama yang direkam dengan menggunakan galvanometer senar[2] dengan berat 600 pounds (lebih dari 270 kg)[7] yang merupakan dasar dari alat EKG 3 sadapan.[1] Alat EKG komersial diproduksi pada tahun 1911, seperti ditunjukkan pada Gambar 2. 

Pada tahun 1912, Einthoven mendeskripsikan sebuah segitiga sama sisi yang terbentuk oleh sadapan I, II, dan III, yang kemudian dikenal dengan nama segitiga Einthoven.[8] Elektrokardiogram pada kasus infark miokard akut pertama kali dipublikasikan oleh Harold Pardee dari New York pada tahun 1920 yang dideskripsikan sebagai T yang tinggi dan dimulai dari titik turunnya gelombang R,[9] yang selanjutnya dikenal sebagai elevasi segmen ST.

Willem Einthoven kemudian memperoleh Nobel prize karena penemuannya di bidang EKG pada tahun 1924.[5] Dalam perkembangannya, alat EKG pun mengalami evolusi dari ukuran dan berat yang awalnya lebih dari 270 kg hingga menjadi 50 pounds (1928), kemudian menjadi 25 pounds (1935).

Penggunaan klinis lead prekordial dicetuskan oleh Charles Wolferth dan Francis Wood pada tahun 1932 ketika mendiagnosis adanya oklusi koroner.[10] Selanjutnya, Emanuel Goldberger pada tahun 1942 menambahkan sadapan unipolar aVR, aVL, dan aVF dan terbentuklah 12 sadapan EKG.[8] Pada tahun 1954, American Heart Association (AHA) menetapkan standar rekaman alat EKG dengan 12 sadapan seperti yang digunakan sekarang.[1]

Alat EKG terus mengalami perkembangan untuk meningkatkan manfaat klinis. Pada tahun 2005, Clemmensen dkk. melaporkan keberhasilan reduksi waktu antara onset nyeri dada dan angioplasti primer dengan penggunaan transmisi elektrokardiogram pasien secara wireless dari ambulans ke handheld Personal Digital Assistant (PDA) kardiologis di rumah sakit.[11] Dengan demikian, pasien dengan keadaan kritis dapat ditangani segera. 

Kemajuan teknologi membuat alat EKG semakin mudah digunakan dan praktis untuk dibawa kemana-mana. Alat EKG portable handheld bahkan memiliki berat hanya berkisar 100 gram. Hadirnya alat EKG merupakan suatu terobosan besar dalam dunia kedokteran karena dapat membantu menegakkan diagnosis dan mengevaluasi berbagai kelainan jantung.

Referensi
  1. AlGhatrif M, Lindsay J. A brief review: history to understand fundamentals of electrocardiography. Journal of Community Hospital Internal Medicine Perspectives. 2012;2:14383.
  2. Burnett J. The origins of the electrocardiograph as a clinical instrument. Medical History Supplement. 1985;5:53-76. 
  3. Sanderson JB, Page  FJM. Experimental results relating to the rhythmical and excitatory motions of the ventricle of the heart of the frog, and of the electrical phenomena which accompany them. Proc Roy Soc Lond. 1878;27:410–414. 
  4. Waller AD. A demonstration on man of electromotive changes accompanying the heart's beatJ Physiol Lond. 1887;8:229–234. 
  5. Merritt C, Tan SY. Willem Einthoven (1860-1927): father of electrography. Singapore Med J. 2002;53(1):17-18.
  6. Hurst JW. Naming of the waves in the ECG, with a brief account of their genesis. Circulation. 1998;98:1937-1942.
  7. Rivera-Ruiz M, Cajavilca C, Varon J. Einthoven's string galvanometer: the first electrocardiographTex Heart Inst J. 2008;35(2):174–178.
  8. Titomir LI. The remote past and near future of electrocardiology: view-point of a biomedical engineer. Bratisl Lek Listy. 2000;101(5):272-279.
  9. Pardee HEB. An electrocardiographic sign of coronary artery obstruction. Arch Int Med. 1920;26:244-257.
  10. Wolferth CC, Wood FC. The electrocardiographic diagnosis of coronary occlusion by the use of chest leads. Am J Med Sci. 1932;183:30-35.
  11. Clemmensen P, Sejersten M, Sillesen M, dkk. Diversion of ST-elevation myocardial infarction patients for primary angioplasty based on wireless prehospital 12-lead electrocardiographic transmission directly to the cardiologist's handheld computer: a progress report. J Electrocardiol. 2005;38(4 Suppl):194-198.
Picture
Gambar 1. Ilustrasi dua kurva saling tumpang tindih oleh Einthoven: kurva yang belum terkoreksi diberi label ABCD dan kurva yang telah dikoreksi diberi label PQRST (diambil dari referensi 6)
Picture
Gambar 2. Alat EKG galvanometer senar kuno dengan pasien yang merendam ekstremitasnya pada elektroda silinder berisi larutan elektrolit (diambil dari referensi 1)



Leave a Reply.